-
Ruko CBD, Blok G No. 9, Green Lake City
Jl. Green Lake City Boulevard, Kota Tangerang, Banten 15148
-
Mail us:
- Market Place
BERITA & AGENDA
Mengejar Ketertinggalan Sektor Pendidikan di Papua
SHNet, JAKARTA – Banyak lembaga memberi beasiswa kepada pelajar Papua dan Papua Barat untuk belajar di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Berbagai program beasiswa yang dijalankan pemerintah juga hampir semuanya melibatkan pelajar dan mahasiswa dari Papua dan Papua Barat.
Mulai dengan program Bidik Misi hingga program ADik (Afirmasi Pendidikan Tinggi), yang semuanya dimaksudkan untuk mengejar ketertinggalan Papua dan Papua Barat dalam sektor pendidikan. Program ADik, bahkan awalnya khusus untuk pelajar dari Papua dan Papua Barat.
Apakah semua program tersebut sudah efektif? Tentu tidak mudah, memerlukan waktu yang masih belum bisa diprediksi secara tepat. Pada saat ini, bisa dikatakan, berbagai program beasiswa tersebut belum mendapat hasil yang setimpal.
Ada, untuk tidak menyebut banyak, mahasiswa yang gagal melanjutkan studi, tak bisa menyelesaikan kuliahnya setelah diajak ke perguruan tinggi.
Beberapa memang berhasil menyelesaikan studi, namun enggan kembali ke Tanah Papua untuk membangun kampung halaman. Lebih tertarik tinggal di perantauan, entah takut ilmunya tak bisa dikembangkan sekembali ke Tanah Papua atau karena sudah mendapat pekerjaan di Jawa atau pulau lain selain Papua. Meski tak sedikit yang kembali untuk membangun Tanah Papua yang subur dan kaya sumber daya alam.
“Persoalan pemberdayaan mahasiswa Papua tergolong kompleks. Namun, sebetulnya tantangan yang dihadapi adalah bagaimana merangkul semua lembaga untuk bersama-sama membangun Papua. Kalau ada kebersamaan untuk membangun, mahasiswa Papua pasti bisa. Building partnership!” kata Adi Pratama, Program Manager Indonesia Global Compact Network di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Adi Pratama menjadi peserta Executive Program for Sustainable Partnerships (EPSP) Batch 4, Universitas Paramadina yang bekerja sama dengan Ford Fondation dan Company Community Partnerships for Health Indonesia (CCPHI) mempresentasikan prototype Pemberdayaan Mahasiswa Papua pada tugas akhir bersama lima orang rekannya.
Mereka adalah Regional marketing Manager PT Fast Food Tbk, Puteradi Kurniawan, Senior Program Manager PT Aetra Air Indonesia, Jagar Colbert Siburian, Superintendent PT Freeport Indonesia, Sari Kartikasari dan Communication and Programme Campaign Direktor Yayasan Lentari, Rahmi Hidayati.
Hidup Mau ke Mana?
Mengapa sangat kompleks persoalan membangun sektor pendidikan di Papua dan Papua Barat? Membangun sektor pendidikan di Papua, kata Adi, tak bisa hanya oleh satu atau dua lembaga saja. Membangun sumber daya manusia (SDM) di Papua harus menyeluruh di berbagai sektornya dan oleh berbagai sektor pula.
Sari Kartikasari mengungkapkan banyak mahasiswa Papua yang belum paham tentang pentingnya pendidikan, bahkan tujuan hidupnya sendiri sekalipun. Kekurangan pemahaman tersebut mempengaruhi motivasinya masuk perguruan tinggi. “Kita harus mencari tahu hal ini, mengapa mereka seakan hidup tanpa tujuan yang jelas,” katanya.
Ketika masuk perguruan tinggi ada yang belum paham kenapa ia harus kuliah. Tak mengherankan kalau ia jarang masuk kuliah dan nilainya kurang baik. “IPK mereka sangat rendah. Kalau ada yang IPK nya 2-2,5, itu sudah sangat bagus,” kata Sari.
Namun, tidaklah tepat menyalahkan mahasiswa-mahasiswa tersebut. Masalah pendidikan di Tanah Papua adalah masalah bangsa dan negara Indonesia. Banyak kalangan sepakat kalau Tanah Papua tetaplah surga kecil yang diturunkan ke bumi Indonesia.
Rahmi Hidayati menjelaskan, mahasiswa Papua yang belajar di Jawa mengalami sejumlah masalah pada awal masa studinya. Tidak saja budaya yang berbeda, jenis makanan, tetapi juga keterbatasaan pemahaman Bahasa Indonesia yang umumnya digunakan di kampus. Mereka memerlukan waktu penyesuain, namun saat bersamaan harus segera masuk ruang kuliah.
Universitas Indonesia (UI), jelasnya, memiliki Papua Centre. Dengan keberadaan tempat seperti ini, sebenarnya cukup membantu apa yang diinginkan mahasiswa Papua dan Papua Barat yang berkaitan dengan kegiatan belajarnya.
Namun, mahasiswa Papua sendiri enggan menggunakan fasilitas tersebut dengan baik. Budaya yang berbeda, lingkungan yang baru, beban studi yang tidak biasa bagi mereka membuat keadaan serba sulit. Belum lagi, sejumlah kebiasaan selama di Tanah Papua mendadak hilang.
Karena itu, kelompok EBSP tersebut menyarankan agar dilakukan identifikasi inisiatif mahasiswa Papua yang masuk perguruan tinggi. Mahasiswa Papua perlu pendampingan yang baik, mengapa harus masuk perguruan tinggi dan diberi motivasi. Tidak cukup dengan pemberian beasiswa penuh, tanpa pendampingan dan pemberian motivasi. (Inno Jemabut)
Artikel diambil dari SHNet - http://sinarharapan.net/2016/11/mengejar-ketertinggalan-sektor-pendidikan-di-papua/
Mitra
Kami





